Tuntunan Islam untuk Menjaga Lingkungan

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Beberapa hari terakhir, di Yogyakarta dihebohkan dengan pemberhentian operasional TPA Piyungan untuk sementara waktu lantaran padatnya sampah nan masuk (dan tanpa bisa sepenuhnya keluar). Bahkan wacana nan beredar menyatakan bahwa ketika dibuka, sampah nan diarahkan ke TPA Piyungan dibatasi 100 ton perhari. Sejenak, mari kita berpikir kembali kudu berapa banyak TPA nan mengalami kondisi sama untuk membikin kita sadar bahwa kesadaran menjaga lingkungan adalah perihal nan semestinya dimiliki setiap orang terlebih kaum muslimin.

Terminologi ‘menjaga lingkungan’ adalah terminologi nan cukup luas. Akan tetapi, kasus-kasus unik seperti banjir akibat mampetnya saluran air, tercemarnya air di lingkungan sekitar tempat pembuangan sampah, dan lain-lain hendaknya menjadi tonggak kesadaran bagi setiap muslim bahwa di dalam Islam terdapat banyak sekali nilai-nilai kebaikan nan jika diamalkan, maka dia bakal menjadi sebaik-baik manusia, seperti:

Larangan membahayakan dan mengganggu orang lain di jalan

Sebuah norma besar dalam fikih Islam berbunyi,

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh melakukan sesuatu nan membahayakan diri sendiri dan orang lain.”

Arti “bahaya” dalam norma ini adalah segala sesuatu nan berpotensi mencelakai alias menghalangi kebermanfaatan pada diri sendiri dan orang lain. Menjaga lingkungan alias tidak membuang sampah sembarangan adalah sebuah keharusan ketika dilanggar bakal muncul ancaman bagi orang lain.

Hal ini pernah ditanyakan pembaca situs www.islamweb.net sebagai berikut,

“Apakah membuang sampah mini di jalan termasuk perkara nan diharamkan? Misal, setelah selesai minum sebotol saribuah di jalan, apakah tidak boleh langsung membuangnya di pinggir jalan? Atau nan lain, seperti setelah menyantap biskuit alias es krim dan membuang bungkusnya di jalan?”

Dijawab dengan,

“Sesungguhnya seorang muslim dituntut untuk menjaga kebersihan jalan dan tidak sembarangan membuang sampah, selain pada tempat nan disediakan. Karena hukum Islam mengajarkan bakal kebersihan. Sebagaimana dalam sebuah hadis,

 الإِيمانُ بضْعٌ وسَبْعُونَ، أوْ بضْعٌ وسِتُّونَ، شُعْبَةً، فأفْضَلُها قَوْلُ لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وأَدْناها إماطَةُ الأذَى عَنِ الطَّرِيقِ

“Iman itu terdapat 70-an cabang. Yang paling tinggi adalah janji bakal kalimat tauhid (laailaha illallah). Dan nan paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim no. 35)

Dan kami tidak mengetahui dalil nan secara unik mengharamkan perbuatan tersebut selama tidak ada ancaman nan muncul setelahnya. Seperti membuang sampah mini seperti jejak gelas alias nan lain. Jika terdapat ancaman alias mencelakai orang lain setelahnya, maka terdapat larangan dalam syariat, ialah membikin gangguan bagi orang lain. Sebagaimana keumuman sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama,

لا ضرر ولا ضرار

“Tidak boleh melakukan sesuatu nan membahayakan diri sendiri dan orang lain.” (HR. Malik secara mursal)

Seandainya perbuatan kita secara langsung alias diketahui secara jelas bisa menimbulkan mudarat bagi nan lain, seperti sampah kita menjadikan lingkungan kumuh dan aroma tak sedap nan menyengat alias nan semisalnya, maka perihal tersebut termasuk ke dalam perbuatan nan dilarang di dalam Islam.

Baca juga: Komitmen Islam dalam Pelestarian Lingkungan

Perintah untuk tidak menjadi pembawa kerusakan di bumi

Dalam beberapa ayat di Al-Qur’an, Allah ‘Azza Wajalla secara tegas melarang umat-Nya dari membikin kerusakan alias melakukan onar di muka bumi. Meskipun ayat nan menjelaskan tentang ketidakcintaan Allah kepada orang-orang nan melakukan kerusakan ditujukan utama kepada orang-orang musyrik, nan melakukan maksiat, munafik, dan seterusnya, namun tidak lantas menjadi pembenar kerusakan lain di bawah kerusakan-kerusakan tersebut.

Syekh Abdullah Az-Zahim hafidzahullahu menjelaskan,

فالإفساد يدخل في جوانب متعددة من نواحي الحياة، كما أن ميدان الإصلاح واسع وشامل، فلا يمكن بأي حال من الأحوال قصر الإصلاح على جوانب محددة، بل هو عملية متكاملة تدخل جميع جوانب الحياة، ابتداء من نشر التوحيد ومحاربة الشرك، ثم تعليم الناس العبادات والمعاملات والأخلاق، بناء على أسس وقواعد شرعية

فالإصلاح لم يدع شاردة ولا واردة مما يمس حياة الناس الخاصة والعامة، الفردية والجماعية، القريبة والبعيدة، الداخلية والخارجية، إلا وشملها.   هذا منهج النبي صلى الله عليه وسلم، ومن بعده خلفاؤه الراشدون، ساروا على نهجه، ثم تبعهم من خلفهم من الخلفاء والعلماء على مر العصور، كانوا يسعون إلى الإصلاح في كل باب من أبواب الحياة، وفي كل فن من الفنون.

“Berbuat onar alias kerusakan bertindak di semua lini kehidupan. Sebagaimana melakukan kebaikan juga mencakup makna nan luas. Tidak mungkin membatasi kebaikan pada ruang tertentu. Bahkan, islah bertindak di semua lini kehidupan seseorang, dimulai dari menyebarkan tauhid, memerangi kesyirikan, mengajarkan manusia tentang ibadah, muamalah, dan akhlak. Berdasarkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip Islam. Maka, semua perihal baik nan menyangkut kebaikan perseorangan dan orang banyak, umum maupun khusus, dekat maupun jauh, internal maupun eksternal, tercakup dalam makna islah. Dan inilah metode Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallama dan orang-orang nan datang setelah beliau seperti para khulafaurrasyidin. Mereka melakukan baik di setiap bagian alias lini kehidupan tanpa terkecuali.” [1]

Begitupun mereka menjauhi keburukan di setiap bagian alias lini kehidupan tanpa terkecuali. Sebagaimana Allah ‘Azza Wajalla melarang secara umum perbuatan merusak dalam firman-Nya,

وَاِلٰى مَدْيَنَ اَخَاهُمْ شُعَيْبًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ

“Kepada masyarakat Madyan, Kami (utus) kerabat mereka, Syuʻaib. Dia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tidak ada bagimu tuhan (yang berkuasa disembah), selain Dia. Sungguh, telah datang kepadamu bukti nan nyata dari Tuhanmu. Maka, sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah merugikan (hak-hak) orang lain sedikit pun. Jangan (pula) melakukan kerusakan di bumi setelah perbaikannya. Itulah nan lebih baik bagimu, jika Anda beriman.’” (QS. Al-A’raf: 85)

Dan perihal ini dikemukakan oleh Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ketika menjelaskan firman Allah ‘Azza Wajalla,

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah melakukan kerusakan di bumi!’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang nan melakukan perbaikan.’” (QS. Al-Baqarah: 11)

“Kerusakan di bumi terbagi menjadi dua macam, kerusakan bentuk seperti menghancurkan rumah-rumah, merusak jalan, alias nan semisalnya nan dilakukan oleh sebagian orang nan menganggap perihal tersebut sebagai sebuah kebaikan. Sejatinya mereka tengah melakukan kerusakan. Jika tidak dianggap sebagai kerusakan, maka apa nan salah dari rumah? Atau jalan-jalan sehingga kudu dihancurkan? Sejatinya mereka nan melakukan demikian adalah perusak nan sejati.”

Kemudian beliau menegaskan kembali, “Larangan melakukan kerusakan di dalam surah Al-A’raf ayat 85 mencakup dua jenis kerusakan (fisik dan maknawi) sebagaimana nan dijelaskan sebelumnya.” (Syarh Kitab At-Tauhid, 2: 173)

Semoga Allah Ta’ala jadikan kita sebagai muslim nan senantiasa menjaga kebaikan dan menjauhkan manusia dari kerusakan. Amin

Baca juga: Pengaruh Lingkungan dalam Bersikap Adil dan Obyektif

***

Penulis: Muhammad Nur Faqih, S.Ag.

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Dikutip dari tautan ini.

Selengkapnya
Sumber Muslim.or.id
Muslim.or.id
Atas